Bukan Kapal Terakhir

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 09.07

Petang itu di pinggir dermaga kau termenung,
menatap sebuah kapal yang menuju laut lepas.
Sebutir air mata melayang saat angin laut menerpa wajahmu
dan lenyap di sela ribuan pasir. Samar kudengar lirih kau berbisik,
"Aku tak sanggup menaiki kapal itu jika kemudinya telah patah".

suatumasa, 2014

Tentang Rasa

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 09.02

Pada akhirnya....
semua tentang apa yang kita rasakan,
bukan apa yang orang lain pikirkan.

suatumalam, 13062016

Perselingkuhan Kata

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 05.12

kalimat satir menjelma di sudut bibir
senyum getir tersayat tajamnya bening mata
lenguh nafas samar membelah udara
hening,
saat lentik jemari malam mendedah segala resah
tanpa jeda,
rebah benih di rahim perselingkuhan kata
; kita


pojoktamansari, 2014
@pidriesha

NAZAR LIK PARDI

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 08.36



Jam dua pagi suasana pasar wedono mulai ramai, para pedagang sayur keliling sibuk mempersiapkan dagangannya. Ratusan sepeda motor berderet rapi di pelataran parkir yang memang sangat luas. Berbagai macam kendaraan hilir mudik, keluar masuk membawa bermacam-macam jenis barang dagangan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Baik yang local maupun yang dari luar daerah. Transaksi jual beli mewarnai lingkungan pasar yang tertata rapi. Cahaya lampu terang bak di siang hari, yang membedakan hanyalah hawa dingin, tapi tak menyurutkan semangat para pedagang untuk beraktifitas. Di salah satu sudut pasar Lik Parmin sibuk menata barang dagangan, sesekali terdengar teriakan, memanggil para pelanggan yang sudah memesan barang dagangan.
Aku masuk ke sebuah warung kopi yang terletak di sebelah pasar, biasa tempat mangkal aku dan teman-teman. Kulihat Lik Pardi, Mas bagong, Mas Pur dan beberapa orang lainnya sedang asyik menikmati hangatnya secangkir kopi. Aku mendengarkan obrolan mereka, mulai dari kendaraan yang hilang, padi yang diserang hama, harga pupuk merangkak naik, hingga harga kol yang jatuh di pasaran. Semua tumpah jadi satu, mulai dari isu perselingkuhan seorang janda penjual pecel, peruntungan, hingga ranah sepakbola, terdengar suara berderai saat obrolan mereka menjurus ke hal-hal yang lucu.
“Mas, dengar berita, pemerintah kita mau naturalisasi pemain untuk timnas?” tanya Lik Pardi
“Iya, menurut kabar berita”, jawabku
“Emangnya kita sudah kehabisan stok ya, koq pakai kayak gitu segala?
“Iya Lik, kehabisan stok, tuh sudah diborong semua,” celetuk Mas Bagong sambil menunjuk ke arah keranjangnya yang sudah kosong, disambut  tawa berderai para pengunjung warung.
“Oo..dasar. Aku tanya beneran”, ujar Lik Pardi sewot. Aku hanya tersenyum mendengar celetukan mereka.
“Bukannya habis Lik, mungkin dengan cara instant, bisa membangkitkan sepakbola timnas kita ”, jelasku.
“Kayak mie aja, instant”, ujar Mas Pur sambil mengunyah tempe goring.
“Ya itulah Mas, Indonesia senangnya yang instant-instant, padahal kalo pembinaan pemain muda kita jalan, tidak perlu naturalisasi, tapi kalo itu bisa mengangkat prestasi, ya apa salahnya kita dukung, mungkin saja salah satu tujuannya untuk mengangkat mental para pemain yang mudah naik turun alias tidak konsisten dalam penampilannya”,
“Kira-kira siapa Mas yang akan di naturalisasi?”, tanya Lik Pardi.
“Pemain-pemain keturunan yang ada di luar negeri , atau pemain luar yang sudah lama berkiprah di liga, setidaknya sudah lima tahun tinggal di negara kita”
“Oo..Aku tahu”, ujar Mas Bagong sembari menghirup kopi. “Christian Perez sama Irfan Khadim”, lanjutnya kemudian.
“Ngawur, kalo itu Julia Perez, senangnya yang semok-semok. Kalau tidak salah, Christian Gonzales sama Irfan Bachdim”, lanjut sahut Mas Pur sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Sri anak pemilik warung yang senyumnya aduhai.
“Ooo..gitu ya, Mas”, ujar Lik Pardi.
Tak terasa obrolan panjang telah usai, satu persatu mereka kembali  berakfitas seperti biasa, ada pulang yang ke rumah, ke sawah. Pasar sudah mulai sepi, tinggal beberapa pedagang yang masih sibuk membenahi barang dagangannya.
Hari mulai merayap terang, matahari mulai menampakkan diri, sinarnya terasa hangat menyentuh wajahku. Perbincangan tadi pagi masih melekat di kepala, naturalisasi? instant? Nasionalisme?. Apakah bisa mereka membuktikan rasa nasionalisme jika mereka menjadi pemain timnas Indonesia? Mungkin semua perlu pembuktian.
Tak terasa langkah kaki sampai di beranda rumah. Suasana sepi karena bapak ibu sejak pagi tadi pergi ke sawah. Rasa lelah mulai menggelitik tubuh, kegiatan di pasar telah menguras tenaga. Akhirnya aku tertidur.
Malam harinya seperti biasa di warung kopi, ternyata perbincangan tadi pagi masih berlanjut. Kulihat Mas bagong, Mas pur, Lik pardi, dan yang lainnya semua berkumpul. Mereka merencanakan acara nonton bareng.
“Mas, gimana rencana nonton barengnya?”, tanya mas bagong
“Ya, kita pasang layar lebar di parkiran pasar, gimana Lik?”
“Kalo aku, setuju saja, nggak tahu yang lain”.
“Boleh-boleh”, ujar Mas Pur. “Tapi peralatannya gimana, maksudnya projektornya?”
“Nah itu dia yang harus kita pikirkan”, ujar Lik parmin seraya menyulut rokoknya.
“Gimana kalo kita patungan untuk biaya sewa proyektor, selama kejuaraan?”, usulku sambil melihat satu persatu reaksi mereka.
“Aku setuju”, sahut Mas Bagong berapi-api.
“Gimana yang lain?” . Tanpa banyak pertimbangan mereka menyetujui usulku.
Gegap gempita menyambut kejuaraan mulai terasa, di sudut-sudut pasar para penjual dadakan mulai menggelar dagangannya, harganya yang bervariasi, mulai dari kaus, baju, celana samapi jaket, baik ukuran anak-anak hingga orang dewasa. Lik Parjo sumringah karena warung kopinya laris manis, selalu pebuh terisi, membludak, tumpah ruah. Mas bagong senyum-senyum, kaosnya ludes terjual habis, bahkan ia kerepotan memenuhi permintaan. Tiap sore lapangan sepakbola penuh diisi orang-orang yang bermain bola, baik laki-laki dewasa maupun anak-anak kecil semua ikut larut dalam suasana gembira.
Aku yang duduk di pinggir lapangan tersenyum, dan bertanya dalam hati, “Apakah harus seperti ini rasa nasionalisme dibangkitkan?”.
Di warung kopi topik pembicaraan tidak jauh tentang kemenangan pasukan timnas masuk final. Bahkan Lik Parjo cs, sesumbar timnas pasti juara. Mereka mulai berani pasang taruhan. Aku yang mendengarkan geleng-geleng kepala,
“Wah ini dah kebablasan Lik”, ujarku. Mendengar ucapanku, spontan satu per satu mereka melihat ke arahku.
“Nggak apa-apa mas, kapan lagi”, sahut Lik Parjo. Aku hanya diam saja. Tak berapa lama kemudian satu per satu orang-orang mulai berdatangan memenuhi warung kopi. Malam yang ramai, riuh rendah oleh gelak tawa, kepulan asap rokok berputar-putar membumbung tinggi, memenuhi warung yang tak seberapa lebar.
Pagi sekali saat lewat depan rumah lik pardi, kulihat ia termenung sepertinya masih menyimpan kekecewaan yang dalam karena kekalahan timnas tadi malam. Terdengar ia menggerutu seraya menggaruk-garuk kepala.
“Lik, panggilku sambil mendorong pintu pagar rumahnya yang sudah mulai doyong.
“Mas, mau kemana?”
“Mau ke sawah lik, nyusul Bapak”.
“Kapan panen?’
“Kemungkinan tiga minggu lagi. Ada apa, Lik?” tanyaku lebih lanjut.
“Nggak apa-apa”, ujar Lik pardi mendesah.
“Masak Lik, kelihatannya suntuk amat!”. Apa karena timnas kita kalah atau ada masalah lain?”
“Salah satu penyebabnya itu, akibatnya saya kalah taruhan” jelas lik pardi.
“Jadi Lik pardi ikut taruhan? Berapa Lik?”, tanyaku penuh selidiki.
“Iya ikut, kalah lima juta”, jawab Lik pardi hingga suaranya mengagetkan seekor ayam yang sedang mengais makanan di atas rerumputan.
“Walah Lik, duit segitu banyak, bisa buat beli bibit, bisa kulakan sayur, bisa untuk beli pupuk”, jelasku sambil geleng-geleng kepala. “Bu Lik, tahu nggak?’, lanjutku.
“Bu Likmu belum tahu, makanya aku pusing. Bapakmu kira-kira punya uang nggak?”,
“Setahu saya nggak punya Lik, kemaren habis beli pupuk”.
“Ya sudah, ujar Lik Pardi dan langsung berdiri dari kursinya.
“Makanya Lik, lihat-lihat dulu, jangan keburu nafsu, kalo Bu Lik tahu gimana, repotkan!”
“Udah ahh, berangkat sana, sok nasehatin”, gerutu Lik Pardi sambil menggulung sarungnya yang kedodoran dan langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah.
Aku diam saja sambil menutup mulut menahan ketawa melihat tingkah Lik Pardi.
“Berangkat dulu ya Lik”, seruku setengah berteriak.
Tak ada sahutan mungkin Lik Pardi tidak mendengar seruanku. Bergegas aku, tak lama kemudian sampailah aku di pematang sawah, dan bekerja seperti biasa, tapi pikiranku masih teringat percakapan dengan Lik Pardi hingga tak terasa matahari sudah di ufuk barat.
Sore itu sambil menunggu siaran langsung final ke dua, aku dan temen-temen nongkrong di warung kopi seperti biasanya. Untuk mengusir hawa dingin yang mulai menggigit, aku memesan segelas kopi dan mulai terlibat obrolan yang tidak tahu arahnya kemana, ngalor ngidul. Beberapa potong gorengan yang hangat sudah lenyap masuk ke dalam perutku. Suasana kedai semakin ramai, beberapa anak muda dari desa sebelah mulai terlihat berdatangan, sepertinya ingin bergabung untuk menonton bersama.
Sesaat terdengar suara sepeda motor Lik Pardi, parkir di depan kedai. Suaranya yang khas memecah obrolan kami.
“Gimana Lik, ikut lagi nggak taruhannya?”, tanya salah seorang pengunjung, sepertinya bukan dari kampung kami.
“Ikut..!”, ujar Lik Pardi bersemangat
“Berapa Lik?”
“Seperti biasa sajalah, kebanyakan nanti pusing kepalanya”, jawab Lik Pardi seraya mengeluarkan amplop dari saku jaketnya.
Aku yang mendengarkan diam saja. Darimana Lik Pardi dapat uang sebanyak itu. Ah, biarlah itu urusannya, pikirku.
Kembali hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian Mas Pur dan teman-temannya, memasuki kedai kopi. Dan mereka  mulai terlibat percakapan sepertinya serius.
“Timnas tidak mungkin juara, menang iya”, terdengar olehku suara Lik Pardi membuka percakapan.
“Iyalah Lik, berat kalo timnas kita juara, mengejar ketinggalan tiga gol, setidaknya harus menang empat kosong”, ujar Mas Pur tak kalah serunya.
“Lik, katanya mau bernazar kalo timnas menang. Ingat nggak waktu kita ngobrol di beranda?”, ujarku pada Lik Pardi
“Bernazar apa Mas?” tanya Lik Parmin yang sedari hanya diam saja.
“Oke, begini. Kalo timnas menang, bukan juara lho. Aku akan keliling pasar dengan hanya mengenakan celana dalam”, jelas Lik Pardi berapi-api.
Mendengar Lik Pardi mengucapkan itu semua pengunjung kedai terbahak-bahak, geleng-geleng kepala. Bahkan Mas Pur sampai tersedak.
“Dasar wong gendeng, nggak malu apa?”, tanya Lik Parmin.
“Nggak Mas, demi timnas aku relakan melakukan apa saja, garuda di dadaku”, Lik Pardi sambil menepuk dada
“Garuda di cawetku”, celetuk Mas Pur terbahak-bahak.
Pelataran pasar sudah mulai penuh satu persatu penonton berdatangan. Layaknya pasar malam, besar kecil, tua muda, semua tumplek jadi satu. Sebuah layar raksasa berdiri megah, alunan suara penyanyi dangdut yang keluar dari loudspeaker menambah semaraknya suasana.
Pertandingan akan dimulai, semua mata menatap ke layar, saat lagu kebangsaan terdengar, semua terdiam, mungkin hanyut dalam suasana atau karena udara yang bertambah dingin, aku tidak tahu. Pertandingan babak pertama berlangsung seru, beberapa kali peluang tercipta tapi tidak menghasilkan gol. Serangan bergelombang yang diperagakan pasukan garuda benar-benar luar biasa, hingga peluit babak pertama usai, kedudukan masih sama.
Babak kedua pun dimulai, wajah-wajah tegang penonton terlihat pias oleh temaram cahaya. Bagi mereka juga aku, kemenangan adalah soal harga diri apalagi kalau sampai timnas juara. Pertandingan lebih menggigit kedua kesebalasan saling serang, karena keasyikan timnas dikejutkan oleh serangan balik dan mengubah kedudukan menjadi satu kosong untuk pihak lawan. Sesaat semua terdiam, tehenyak, sorak-sorai yang tadi begitu riuh lenyap terbawa angin. Wajah Lik Pardi pucat pasi, Mas Pur yang duduk bersama bersama Sri anak Lik Parjo, garuk-garuk kepala, sedangkan aku hanya bisa mengumpat dalam hati.
Tak lama kemudian kedudukan berubah dan pada menit-menit terakhir pasukan garuda merubah kedudukan dan memenangkan pertandingan. Gegap gempita, riuh membahana, membelah langit yang tertutup kabut, terselip rasa bangga walau pasukan garuda tidak menjadi juara lalu Lik Pardi berteriak meluapkan kegembiraannya. Teringat nazar yang pernah ia ucapkan, Lik Pardi langsung melepas baju dan celana, melesat, berlari mengelilingi pasar sambil mengacungkan ke dua belah tangan ke udara diiringi tepuk tangan dan gemuruh sorak sorai para penonton yang masih berjubel di pelataran. Semua larut dalam efouria kemenangan.
Di sudut lain kulihat Mas Pur dan Sri berbincang mesra, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Kebersamaan dalam menyemangati timnas telah menyatukan dua hati, ada benang-benang cinta yang terajut, kilatan cahaya di bening mata Sri menyiratkan itu. Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Tak terasa malampun semakin pekat dan satu persatu orang-orang mulai meninggalkan pelataran pasar, pulang ke rumah masing-masing dengan wajah senang dan senyum tersungging di bibir.
Pagi menyapa, kuayunkan langkah menuju rumah Lik Pardi. Ternyata masih tidur, kata isterinya masuk angin. Aku hanya tersenyum, dan berkata dalam hati, “kebablasan”.

by Pidri Esha, 05082011

 

Pada Suatu Jeda

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 10.32



Tentang jarak yang kita tempuh.
jauh, tak tergapai hitungan matematika.
Tentang rasa yang kita rengkuh.
meluap, tak terbendung ribuan kata

Hingga pada suatu jeda, saat hening melingkup raga ;
menderas rinduku menjadi gerimis di sudut mata. 
Lalu hujan bergegas, menapak jejak kisah di jalanan 
yang tabah menadah gunda...

padasuatujeda, Juni 2014



Musim ke Tiga

Posted by Pidri Esha | Posted in | Posted on 08.11

coretan lontar luruh di musim ke tiga
gigil daun didekap angin dingin yang bengis
tajam indera mendengus rindu berbau amis
lalu, hujan bulan juli milik siapa?

06072013