Rabu, 04 Januari 2017

Prikitiew

By Pidri Esha | At 09.43 | Label : | 0 Comments
Kata yg dipopulerkan oleh SULE OVJ, bagi saya sangat menggelitik, bikin kita tersenyum. Kadang saya geli sendiri kalo ada yg ngucapin kata itu. Banyak istilah-istilah atau kata-kata bahasa gaul yang sering kita dengar, tapi kata yang satu ini menurut saya sangat...sangat apa ya..?..lucu, geli, bikin kita ketawa. Ungkapan itu kalo kita ucapkan tidak membuat orang tersinggung atau marah, malah bikin orang tersenyum, karena kata tsb tidak mengandung unsur sara, kotor, atau “saru” istilah orang jawa.

Ada cerita menarik nih..!!

Temen saya curhat, tiap hari di kantor dia dimarahin terus sama bosnya.
"Lho, kenapa emangnya?", tanya saya.
Si temen tadi jawab, "Nggak tau tuh, kalo salah okelah,lha ini salah aja nggak, marah terus".
Terus saya bilang gini, "Kalo kamu dimarahin bosmu, bilang aja : "Prikitiew..ehemm..ehemm.."
Si temen protes, "Masak bilang gitu..! Kalo saya dipecat gmn?"
"Itu urusanmu", jawabku.

Beberapa hari kemudian si temen cerita lagi bahwa si bos marah-marah, mungkin karena saking jengkelnya temen tadi langsung bilang : "Prikitiew..ehemm..ehemm..aja boss.."
Kemudian temen tadi dipanggil si boss.
Mampus aku gara-gara si Andi nih gumam si temen.
"Apa kamu bilang, prikitiew..ehemm..ehemm, maksudnya apa? kamu memergoki saya ya?", tanya si bos sambil mukanya merah.
Saking gemetarnya si temen tadi, langsung jawab : "Iya bos". Padahal si temen nggak tau apa-apa.
Terus si bos dengan nada melunak, berujar, "Ya udah tapi jangan bilang-bilang isteri saya ya kalo saya jalan sama yang lain".
"Iya bos, siap", jawab si temen sambil melongo.

Nah lho ketahuan!! Setelah itu setiap ketemu bos, si temen selalu bilang: "prikitieww..." Si boss langsung jawab : "ehemm..ehemm..." Hahahaha...ada-ada aja...


Ini sekedar intermezzo buat temen-temen yang lagi disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk, yang nggak ada habis-habisnya, atau lagi stress ditinggal pacar, lagi ada masalah dengan keluarga, tetangga, temen, atau masalah keuangan. Intinya hidup ini dinikmati aja, berapapun yang kita dapat, banyak atau sedikit, apapun yang kita kasih, siapapun itu, disikapi dengan lapang dada (legowo), disyukuri dan tak lupa untuk selalu tersenyum..:-)


suatusiang, 13 Juli 2010

Cinta is Olongoh..!!

By Pidri Esha | At 09.38 | Label : | 0 Comments
CINTA..!! Hemm..sejari kata, baik remaja, dewasa, orang tua, bahkan anak-anak kecilpun sering kita dengar mengucapkan kata ini. Apa itu cinta? Makna apa yang terkandung di dalamnya?

Coba deh kita tanya, yang ahli fisika, misalnya : Menurut kamu cinta itu apa? Dengan entengnya dia jawab : Cinta adalah molekul-molekul yang terbentuk dari beberapa partikel, dikali dengan kecepatan cahaya dan akhirnya menghasilkan energi yang bisa meledakkan hatimu. Hancur hatiku..hehe.

Ahli kimia jawabnya lain lagi : Cinta adalah cairan asam sulfat yang terbentuk dari hydrogen, oksigen dan lain-lain, tercampur dalam bejana membentuk satu kesatuan, dan akhirnya menjadi cairan warna-warni yang siap dituangkan dalam cangkir hatimu. Walaahh..meleleh..hehe..

Kalo ini lebih gila lagi, Ahli matematika, Cinta adalah dalil Pythagoras membentuk sudut-sudut memanjang, akhirnya menjadi segitiga sama sisi. Cinta segitiga, katanya..hadewww…

Beberapa sahabat pernah kutanya definisi dari cinta, jawab mereka beragam, ada yang jawab, cinta adalah anugerah Tuhan Yang maha Esa, cinta adalah ketika kau berkata “iya”, cinta adalah sungguh indah dirasakan jiwa, jawabnya tak ada yang sama. Masalahnya apa yang dirasakan hati seseorang dengan lainnya pasti berbeda, walaupun wujud katanya sama yaitu ‘Cinta’

Apa yang kita rasakan, ketika kita cinta kepada sesuatu?. Cinta kepada hewan, kucing misalnya, memandikan, kasih makan, kalo sakit kita antar ke dokter, bahkan tidurpun kadang sama kucing.

Cinta kepada anak, dari kecil sampai anak dewasa, diasuh, dididik, diajarkan hal-hal positif, diperkenalkan dengan lingkungan, limpahan kasih sayang, perhatian, dan lain-lain, bahkan ketika maut menjemputpun terkadang orang tua kita masih sempat menyebut nama anaknya.

Cinta kepada alam semesta, tumbuh-tumbuhan, hewan, pasangan, kekasih, pacar, sahabat, anak, orang tua, guru, tetangga dan lain-lain. Apapun rela kita lakukan dalam mengekspresikan rasa cinta itu demi untuk menyenangkan orang lain. Tapi perlakuan terhadap apa yang kita cintai pasti tak sama, berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

Ataukah cinta itu seperti cangkul, dimana ia akan menggali dan terus menggali mencari makna apa yang terpendam dalam cinta itu sendiri. Koq bisa? Misalnya, ketika kita akan menanam padi, apa yang kita lakukan? Pasti sawahnya kita cangkul dulu atau kita bajak, kita bersihkan dulu, biar subur, gampang tanam padinya. Mungkinkah langsung kita tabur benih, sedangkan rerumputan masih bertebaran di pelatarannya? Bisa, yang subur rumputnya..hehe...

Sekarang kita tanya para penyair, penulis cerpen atau novel, tentang cinta, pasti jawabnya susah dan beragam sesuai sudut pandang mereka. Tak ada yang bisa benar-benar mengartikan cinta itu apa. Meminjam istilah sang novelis terkenal dari Yogyakarta Endik Koeswoyo, “CINTA IS ANU”. Memang benar Cinta adalah ANU..??, masih dalam tanda tanya, tugas kita untuk mengisi atau mendefiniskan tanda tanya tersebut, terserah dari sudut pandang mana, kembali kepada diri masing-masing. Yang jelas cinta itu sesuatu yang tidak terdefinisi, susah diungkapkan dengan kata-kata. Itu saja, gampangkan, atau kata si Neng, “CINTA IS OLONGOH”..hadeww..haha..ada-ada aja...


18 Maret 2011

Celoteh Cicak

By Pidri Esha | At 09.31 | Label : | 0 Comments

*Cekedar Celoteh*

Di sudut ruangan, sebuah kamar yang langit-langitnya sudah mulai keropos dimakan tikus, tiga ekor cicak sedang bercengkerama, bercerita tentang keinginan mereka.

"Aku ingin jadi buaya", ujar cicak I
"Koq jadi buaya?", tanya cicak II
"Lha iya, kalo jadi buaya. Aku bisa di laut, bisa juga di darat. Badanku besar, kuat bahkan aku bisa menghabisi kalian semua. Ingat nggak jargon Buaya vs Cicak..!", ujar cicak I dengan semangat yang menyala-nyala.

"Aku ingin jadi bunglon", sahut cicak II
"Ah, masak jadi bunglon..!", kata cicak I
"Kalo jadi bunglon, aku bisa berubah warna, di tempat biru jadi biru, kuning berubah jadi kuning, nempel di tempat merah jadi merah, gampangkan bisa berubah-rubah, loncat sana, loncat sini, kalo ada kursi kosong tinggal "nemplok", ujar cicak II tak kalah semangatnya.

"Kalo kamu mau jadi apa?", tanya mereka pada cicak III
Sambil menghela nafas panjang dan penuh percaya diri cicak III berujar,
"Aku ingin menjadi diri sendiri, tidak buaya, tidak bunglon, dan lain-lain. Karena aku tahu kemampuan, kekuatanku. Dan juga dengan menjadi seekor cicak aku tetap bisa menikmati secangkir kopi", jelas cicak III sambil melirik ke arah secangkir kopi yang mengeluarkan aroma khas.

Hemm...cerita di atas sekedar ilustrasi. Kenapa sih terkadang kita enggan menjadi diri sendiri? Banyak waktu terbuang bahkan biaya hanya untuk menjadi orang lain. Ketika kamu merasa ada kemampuan tuk menjadi seorang penulis, ya silahkan, mo jadi penyair kek, cerpenis, novelis, wartawan, dan lain-lain.

Apa mo seperti Endik Koeswoyo atau Mas Nana Sastrawan , boleh saja , tapi jangan tiru fisiknya, karena apa? mereka dekil, kucel, kumal..hahaha..:P *soorry pak becanda*

Apakah kita harus mensejajarkan dengan mereka-mereka yang sudah terkenal, yang karya mereka sudah puluhan bahkan ratusan, boleh saja, tapi ingat, mereka mendapatkannya tidak dalam hitungan jam atau hari, tapi hitungan tahun.

Mungkin sobat-sobat semua punya kemampuan di bidang lain, silahkan, tak ada yang tak mungkin.
Semua pasti punya cita-cita, jangan mudah menyerah, hidup kita hanya hitungan jam, setiap detik berlalu terkadang tanpa kita sadari telah mencengkeram kita.

Saat ini banyak orang bertarung mencari kemenangan, popularitas dengan meniru gaya, cara orang lain. Namun justru terjatuh dan terjatuh kembali pada kefanaan yang sama. Itu karena mereka kehilangan kepercayaan untuk menjadi diri sendiri.

If you can't be a highway then be a trail,
If you can't be the sun be a star,
It isn't by size that you win or you fail
Be the best of whatever you are
(bait terakhir puisi karya Douglas Malloch "Be the Best of Whatever You Are")

So, enjoy yourself is the keys of happinness.
26 Mei 2011

Selasa, 13 Desember 2016

Qirana ; Kisah Tak Usai

By Pidri Esha | At 09.46 | Label : | 0 Comments
Aku melangkah menyibak ilalang menyusuri jalan setapak. Bukit ini tak seperti dulu ketika awal-awal aku mengungkapkan cinta, mengikat janji suci dengannya. Lebat dengan ilalang dan batu-batu besar hitam yang melumut. Tapi kini sudah jauh berubah. Di sana-sini kulihat dangau-dangau kecil yang mencuat dari celah-celah daun ilalang yang meranggas dan pohon-pohon akasia yang rimbun.

Kuhentikan langkah dan kutegakkan badan. Kira-kira seratus meter aku menyusuri jalan setapak itu. Tapi kaki ini tak kuat lagi menapak jalan yang melingkar itu. Nafasku pun terasa memburu dan kadang harus terpenggal pula di antara dua bibirku. Angin sepoi-sepoi berhembus memainkan daun ilalang lalu membawa terbang daun-daun akasia yang mulai mengering.

Aku terpesona. Pemandangan indah seperti ini membawa ingatanku ke masa silam. Kenangan yang membuat kerinduanku kembali membuncah.

“Qirana…Qirana…” teriakku memanggil dirinya.
Tiba-tiba muncul seraut wajah yang manis khas keturunan ninggrat, serta kerling matanya jenaka dari balik rimbunnya ilalang.
“Kemana aja sih..”?  tanyaku setengah khawatir.
“Godain Mas Egi..habisnya..malah tiduran di atas rerumputan..ya udah qirana tinggal aja..”ujarnya sambil muka cemberut.

Nah, kalo sudah kayak gini, qirana akan ngambek. Ia akan langsung sembunyi atau duduk di atas rerumputan. Menunduk dan berpangku tangan sebagaimana layaknya seorang pertapa.
“Ya, udah ma’afin mas ya…abis ngantuk banget..angin sepoi-sepoi lagi..” jelasku setengah menyesal. Seraya kubelai rambutnya yang hitam. Sesaat kemudian dia sandarkan kepalanya dibahuku dan kami pun bercengkerama sambil menikmati suasana alam.

 Awal pertemuanku dengannya secara tak sengaja. Hari itu aku bangun kesiangan karena menyelesaikan tugas mata kuliah. Wahh..telat nih pikirku, secepat kilat aku mandi setelah rapi, langsung kusambar tas yang tergeletak di tempat tidur. Dengan terengah-engah aku berlari ke jalan raya, di mulut gang aku menunggu angkot yang lewat.

Di kejauhan samar-samar kulihat asap knalpot mengepul, itu pasti angkotnya gumamku. Suara rem yang berdecit-decit, menghentikan laju angkot tersebut. Tempat duduk belakang penuh, kulihat didekat pak sopir sudah ada dua penumpang. Waduh gimana nih pikirku.

“Kampus ya, Mas?”, tanya kondektur.
“Iya, tapi tempat duduknya nggak ada yang kosong”, ujarku.
“Nggak apa-apa didepan aja!” teriak Pak sopir sambil mengelap keringat di wajah dengan handuk kecil yang sudah mulai kumal dan setengah sobek.
“Ya udahlah dari pada telat”.

Dengan sangat terpaksa aku duduk didepan berhimpit dengan penumpang lainnya. Perjalanan ke kampus terasa lamban. Suara mesin mobil yang menderu terasa bising memekakkan telinga.
“Kampus..kampus..!” teriak kondektur.
“Kiri….Paaak…”! Kusodorkan dua lembar uang seribuan, yang sudah kumal.
“Mas, kurang nih…!”
“Biasanya emang segitu”.
“Tarifnya sekarang udah tiga ribu”, lanjut kondektur dengan suara meninggi.
“Mahal amat”, teriakku sambil tanganku menyodorokan uang seribuan.

Kulirik jam tangan, waduuhh udah jam 9 lewat nih, gumamku. Bergegas aku menuju kampus yang jaraknya 50 meter dari jalan raya. Saking buru-burunya aku nabrak pompa hydrant yang ada di pinggir trotoar, sambil meringis kesakitan kupungut satu persatu lembaran tugas yang berserakan. Di seberang trotoar terdengar suara cekikikan,

“Owalahh orang jatuh koq diketawain…”, terdengar suara merdu.
Lantas aku menoleh ke arah suara tersebut. Sepersekian detik jantungku serasa berhenti berdetak ketika kulihat seorang gadis cantik, berlesung pipit, tinggi semampai, wajahnya yang rupawan dengan senyumnya yang menawan dan rambut hitam yang tergerai, sudah berdiri di sampingku.

Sambil tersenyum dia berkata :
“Aku bantu ya, Mas..!”
“He’eehh..” jawabku gugup sembari tanganku memunguti lembaran tugas yang masih tersisa di trotoar. Lantas aku berdiri, kukibas-kibaskan debu yang menempel di pakaianku.
“Koq bisa jatuh Mas, kenapa..”? tanyanya dengan suara yang lembut.
“Kesandung!”, jawabku sekenanya. Seketika hembusan angin yang lembut menerpa, tercium aroma wangi yang keluar dari tubuhnya.
“Makanya hati-hati, Mas..”! ujarnya sembari menoleh ke tempat lain karena jengah melihat tatapanku.

Aku diam saja karena masih terpesona aura kecantikannya.
“Eh ma’af, mau ke kampus ya?”, tanyaku
“Iya..” jawabnya sembari meletakkan tas di bahu kirinya.
“Bareng yuk..!” pintaku. Ia pun mengangguk pelan.
“Kenalkan nama saya Egi, Mbak siapa…”?
“Panggil aja Qirana”.
“Nama kamu cantik..secantik orangnya..hemm..”!
“Ahh..Mas bisa aja”, ujarnya sambil tersenyum.

Beberapa saat kami terdiam sembari menikmati hembusan angin yang menerpa pucuk dedaunan pohon akasia yang berjejer di sepanjang boulevard. Tak terasa langkah sudah sampai di pelataran kampus.

“Mas Egi, aku duluan, ya..”!
“Ok, Trima kasih dah nolongin..” ujarku.
“Iya, Mas, Sama-sama”.

Kulihat bayangannya sudah menghilang masuk ke salah satu ruangan.Setengah berlari sambil menahan rasa sakit  aku menuju ruang kuliah yang terletak di lantai dua. Kulihat dari kaca jendela ruangan, si mister killer sedang menjelaskan materi kuliah.
“Tok…tok…tok’..kuketuk pintu kelas.
“Yak, silahkan masuk”, ujar Mister killer dari dalam.
“Telat lagi ya...”? tanya Dosenku seraya pasang muka masam.
“Ma’af Pak…” ujarku sembari menyerahkan tugas yang kugarap semalam.
“Ya udah, duduk sana…”!
“Trima kasih pak”.

Aku menuju kursi kosong yang terletak paling belakang. Jam kuliah bubar, aku segera menuju kantin bersama temenku Aji. Suasana kantin ramai banget, maklum jam makan siang, akhirnya kami duduk di pojok.

“Kenapa gi, koq senyum-senyum melulu…”? tanya aji.
“Hehehe…tadi aku ketemu cewek, cantik banget…”,
“Dimana, kuburan…”?, tanya Aji sambil cekikikan.
“Enak aja, emangnya kuntilanak”, jawabku sewot.
“Habis kamunya, jarang-jarang muji cewek, kalo nggak benar-benar cantik…”
“Ya, iyalah, yang ini cantik banget.”, ujarku sambil mencomot sepotong tempe. Setelah menghabiskan makanan yang kami pesan. Akhirnya kami cabut dari kantin itu.

 Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke kampus. Saat berjalan di boulevard kampus, kulihat seperti sosok yang kemaren, dengan langkah kecil berirama, pada nada tiga perempat, dia berjalan layaknya putri salju, laksana simfoni alam yang melantunkan nada-nada indah yang mengalun syahdu. Setengah berlari kukejar dia. Huff…dia kaget, mendengar suara langkah buru-buru di belakangnya.

“Qirana..”! panggilku dengan nafas ngos-ngosan.
“Hei, Mas Egi”. jawabnya sambil cekikikan.
“Lho koq malah ketawa..?”
“Habis lucu sih…”
“Ingat, kejadian kemaren”, ujarnya dengan tawa yg berderai.
“Ahh..Kamu, bisa aja”, ujarku dengan tersenyum kecut.

Kamipun bercerita panjang lebar, akrab, layaknya dua sahabat  yg sudah lama tidak  ketemu. Ternyata dia mahasiswi baru semester pertama. Ternyata kami banyak kesamaan. Qirana sangat suka puisi. Dan aku berjanji bikin puisi untuknya.

Sejak saat itu, setiap ada  kesempatan kami ngobrol bareng, ketemu di kantin, di perpustakaan, di kampus, jalan-jalan menelusuri keramaian kota Yogyakarta. Melewati hari-hari indah dalam kebersamaan, dalam canda tawa. Aku bahagia karena puisiku sangat dia sukai. Bahkan puisi-puisiku disimpan dalam kotak kecil warna ungu, kotak yang kuberikan sebagai hadiah ultang tahunnya.

Tak terasa persahabatan kami sudah menginjak usia satu tahun. Kebersamaan itulah yang kemudian menumbuhkan sesuatu perasaan yang lebih dari sekedar rasa persahabatan. Wajahnya yang manis, matanya yang penuh pesona dan lagak gayanya yang memikat, mulai menumbuhkan rasa sayang dalam hatiku.

Qirana terlalu baik untukku bahkan melebihi seorang teman. Walaupun dia keturunan ninggrat tapi kesederhanaannya membuat aku tergila-gila. Bahkan kalo ke kampus pun dia tak pernah naik mobil pribadi, pasti naik angkot. Dia bilang : “aku lebih suka menikmati suasana seperti ini, dan aku ingin merasakan betapa susahnya jadi rakyat kecil”. Pemikiran dan ide-idenya sama persis denganku.

Suatu hari saat kami menikmati suasana alam di perbukitan yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon akasia yang rimbun. Kusandarkan tubuhku di pohon akasia sambil kedua tangan kuselipkan di saku jaket untuk mengusir hawa dingin yang mulai menerpa tubuh. Kutatap Qirana yang sedang duduk di sampingku sembari tangannya mempermainkan helai-helai rambutnya yang hitam.

“Aku ingin mengungkapkan sesuatu, Qirana”, ujarku dengan suara tertahan.
“Ada apa, Mas?” jawabnya sembari menoleh ke arahku.
Aku terdiam. Kuhela nafas panjang sambil menatap pucuk-pucuk ilalang yang bergoyang di tiup angin.
“Sudah satu tahun persahabatan kita, kita sudah mengenal diri masing-masing, saling memahami satu sama lain", jelasku tercekat serasa ada biji kedondong di tenggorokan.
"Maukah kau mengisi kehidupanku, Qirana ?” pintaku.
“Maksud, Mas Egi, kita menjadi sepasang kekasih...”?

“Iya.., kamu menolak…!” Dia terdiam beberapa saat, seolah tak percaya apa yang dirasakannya selama ini persis sama apa yang kurasakan. “Nggak Mas, aku tersanjung, bahagia...!
"Mas Egi sudah memberi warna dalam kehidupanku. Apalagi puisi-puisi Mas Egi membuat hatiku tentram, selalu bersemangat menatap hari-hari, hatiku selalu bergetar dan serasa akulah satu-satunya bidadari Mas…” jelasnya dengan wajah tengadah menatapku.
“Tapi aku takut Mas…” lanjutnya.
“Takut..kenapa..”? tanyaku dengan wajah keheranan.
“Aku takut mas..!
"Tidak bisa membahagiakan Mas, tidak bisa menjadi apa yang Mas inginkan, aku takut dengan teori-teori dan mimpi-mimpi tak pasti yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi”. ujarnya lirih.

Kulihat ada bulir air mata menetes dipipinya, kuusap lembut air mata itu dengan ujung jariku. Kurengkuh dia dalam pelukanku. Hening sejenak.
“Qirana, ketika seseorang meraih kesuksesan semua berawal dari teori dan mimpi yang lambat laun akan menjadi kenyataan..” ujarku sambil mengusap rambutnya yang hitam tergerai.
“Aku ingin kau menjadi bintang di hatiku, seperti kedip bintang dinihari, ketika fajar telah menyapu bersih kedip bintang, hanya satu kedip cahaya bintang yang tetap bertahan, dan bintang itu adalah kau,  Qirana...!” lanjutku seraya mengangkat dagunya.
“Iya, Mas..kita jalani seperti adanya..”, bisiknya lirih.
“Ya udah, nggak usah sedih, apapun yang akan terjadi, kau selalu ada dihatiku..” jelasku seraya mengecup lembut keningnya.
Dia mengangguk pelan, tersenyum. Kulihat langit mendung  sebentar lagi akan turun hujan. Sambil meraih tangan Qirana. Kami melangkah saat daun-daun ilalang bergoyang ditiup angin. Seolah-olah menyambut keceriaan yang sedang kami rangkai.  

Tak terasa dua tahun sudah perjalanan kisah Aku dan Qirana. Tapi segalanya  seakan terhenti. Hari itu Qirana muncul dengan wajah muram. Ia berdiri di teras depan kamar yang kusewa. Ujung sepatunya basah kena embun yang masih menggelayut di helai-helai daun rumput. Tas hitam tergantung di pundak kirinya. Baju yang dikenakannya berwarna dasar putih, bermotif bunga-bunga warna merah muda. Angin pagi menggeraikan rambutnya yang panjang dan hitam.
“Qirana..!” seruku,
“Masuklah..!”

Langkahnya tertahan-tahan. Ia seperti ragu-ragu masuk ke kamarku. Matanya mencari-cari mataku.
“Apa yang terjadi ?” tanyaku setelah ia duduk di karpet yang kualasi bantal tipis.
Qirana menghela nafas panjang. Wajahnya runduk.
“Hari-hari yang tak kuharapkan makin mendekat,” bisiknya.
“Hari-hari yang tak kauharapkan? Apa maksudmu?”
“Utusan sudah datang.”
“Utusan siapa?” desakku tak sabar.

Qirana meletakkan tasnya di lantai. Jari-jarinya yang halus berkuku merah, tampak indah.
Dari jendela aku menyaksikan daun-daun gugur dari ranting-ranting mangga di halaman.
“Ceritalah,” kataku dengan suara lebih tenang.
“Kau dan aku akan berpisah, Mas Egi,” lirih suaranya.

Kalimat singkat itu seakan suatu alamat bahwa hubunganku dengan putri keturunan ninggrat ini akan tamat.
Aku merasakan ada suatu kekuatan yang memutuskan persahabatan kami. Walaupun Qirana belum mengatakan seluruhnya, aku telah membayangkan betapa perpisahan itu melukai kami.

“Hyyuuhhh!” Qirana kembali menarik napas panjang.
Helaan nafas itu meluluhkan semua kenangan kami. Kenangan yang terjalin di bukit, di pucuk-pucuk daun akasia, di antara pucuk-pucuk ilalang yang bergoyang.

“Keluhan tak akan menyelesaikan masalah, Qirana,” kataku setelah mengembara ke masa silam.
“Memang tidak, Mas Egi. Memang tidak, koq.
"Aku ke sini membawa masalah padamu, membawa kegelisahanku, ketakutanku.” Qirana mulai tersedu-sedu.
“Apa yang kautakutkan itu?”
“Tuntutan, Mas egi.”
“Tuntutan siapa?”
“Utusan dari keluarga Raden Mas Krisna Harjo Kusomo, tanpa sepengetahuanku sejak kecil ternyata kami sudah ditunangkan, orangtuaku sdh ada perjanjian dengan orangtua Raden Krisna bahwa kami harus menjadi satu keluarga sesuai titah Eyang Putri,” jelasnya parau sambil terisak.

“Tapi kamu bisa menolakkan?” teriakku dengan dada menggelegak karena harga diri terinjak-injak.
“Tidak bisa mas, aku tak kuasa tuk menolak, karena kalau aku tidak memenuhi tuntutan itu, kami tak akan mendapatkan warisan, dan gelar kebangsawanan kami akan dicabut, seperti zaman feodal, dimana kami harus menurut hirarki garis keturunan”. Qirana menjawab seperti menjerit.

Kugenggam tangan Qirana yang menggeletar oleh keharuan.
“Kita terkurung, Mas,” bisiknya sambil meletakkan kepala ke dadaku.Kupeluk dia erat-erat.
Qirana merintih dalam pelukanku. Kurasakan debar jantungnya di dadaku.

“Mas Egi…,” bisiknya.
Ia menengadah. Mulutnya menganga di bawah daguku. Bibirnya merekah, menunggu, meminta, mengharap…..
“Qirana, maafkan, aku tidak punya jalan ke luar, “ bisikku.
“Tak apa-apa, Mas. Aku datang hanya pamit padamu. Aku mengerti keadaanmu”.
“Jangan ucapkan kata-kata itu, Qirana! Kata-kata itu melukai hatiku, memojokkan aku sebagai lelaki, yang memang tak berdaya.”
“Ketahuilah, Mas Egilah yang membuat aku bahagia, membuat hatiku  terus merona, mengajarkan aku saling memahami, mengajarkan aku tentang makna hidup yang sebenarnya. Hanya Mas, cinta sejatiku. Cinta ini akan kubawa sampai mati,”
"Biarlah kukorban diriku demi kebahagian orang tuaku”. bisiknya lirih sambil menangis.

Kupagut  wajahnya dan kubenamkan hidungku di pipinya.
“Aku telah meronta, melawan ketakberdayaanku dengan dayaku yang terbatas, Mas.”
“Oh, Qirana,” kataku sambil membelai anak-anak rambut di dahinya.
“Aku adalah lelaki pengecut, lelaki yang tidak mampu melawan ketakberdayaanmu.”
“Kau tidak pengecut, tidak sama sekali, Mas. Aku tahu jiwamu. Kau pun telah menganjurkan perlawanan terhadap semua sikap manusia yang membahayakan sendi kehidupan orang lain.”

“Aku menyayangimu, mencintaimu, mengasihimu, Qirana. Tetapi, sayang, kasih, dan cinta saja tidak cukup untuk hidup layak.
Apa yang dapat kulakukan? Apa yang mampu kudobrak dengan modal yang bernama semangat? Aku merangkak-rangkak  di kolong langit yang melengkung, seperti anak-anak rakyat kecil yang hari ini entah makan apa tidak. Aku mencoba berdiri kukuh, menganyam rencana, menegakkan harga diri semampuku di jalan yang lurus”. jelasku sambil terisak.

Qirana menyeka airmataku yang menggelinding di bawah kedua pelupuk mataku.
“Aku tidak mampu menjadi juru selamat. Menyesakkan sekali keadaan ini,” kataku.
“Kita tidak mungkin lari, Mas.”
“Tidak, Qirana! Seorang kesatria tidak mengenal jalan pelarian. Betapa pun pahit risiko yang menantang kita, kita tidak boleh lari.”
“Kita tidak punya pilihan, Mas.”
“Keterbatasan menyebabkan kita tak sempat memilih.”
“Menyakitkan sekali,” Qirana mendekapku lebih kuat.
“Ya, kenyataan getir ini adalah milik kita hari ini.”bisikku lirih.

Kutatap mata qirana. Di sana kulihat hutan hijau, pucuk-pucuk akasia, taman-taman yang indah, dan daun-daun ilalang yang mulai meranggas. Itulah hari-hari yang hilang, tetapi menegas dalam kenangan. Kenangan itulah kekayaan batin kami.
“Kita akan saling berjauhan, Mas Egi.”
“Aku pasti rindu padamu,” bisikku.
“Aku juga.”

Kubelai bibir Qirana dengan jari-jari tangan kananku yang letih. Gadis itu memejamkan mata.
Bisikan halusnya memanggil-manggil namaku. Kurasakan, suara itu semakin jauh, jauh entah di wilayah mana, aku tak dapat membayangkannya.
“Kita memang berhak memilih jalan hidup yang kita sukai, tetapi pilihan itu dibatasi keadaan yang sulit. Saat ini kita hanya mampu bermimpi. Arus yang kita lawan sangat deras sekali. Kau kulepas dengan kedua tangan yang tak rela melepaskanmu, Qirana. Hati nuraniku mengatakan begitu”.

“Aku ke sini menyerahkan kasih, cinta, dan sayangku padamu,” Qirana terengah-engah dan bergantung dileherku.
Suara itu serasa membakar gairah mudaku. Qirana mempererat rangkulannya.
“Aku ke sini untuk menyerahkan seluruh diriku padamu, Mas”, bisiknya lirih.
“Qiranaaaa……, apa yang kauucapkan...??

”Plaaakk…! Lamunanku buyar ketika aku menampar pipiku yang terasa bagaikan digigit nyamuk. Kutatap telapak tanganku, tak ada percikan darah. Ya, memang tak ada percikan darah karena pipiku bukanlah di gigit nyamuk. Tapi tersentuh oleh ujung daun akasia yang terbang bersama angin lalu. Sialan..!

Ahhh…Qirana. Betapa sulitnya menghapus segala kenangan indah tentang dirinya. Wajah manisnya. Tawa renyahnya. Lesung pipitnya.Wangi rambutnya. Serta sikapnya yang manja.Aku kembali menyusuri jalan setapak yang melingkar di bukit itu. Mengenang pertemuan itu, menyusuri jejak kerinduan yang terasa menyesakkan dada, menggulung jiwa dalam kenangan abadi.

TAMAT

***
 September 2010
@pidriesha

KIRANA
Songs By Dewa19

Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar dikeruhnya satu sisi dunia
Hadir dimuka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta

Lusuh lalu tercipta mendekap diriku
Hanya usung sahaja kudamba Kirana
Ratapan mulai usang nur yang kumohon
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka….

Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku kedunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta

Peluhkupun mengering menanti jawabmu
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta
Kuingin rasakan cinta

Smakin jauh kumelangkah
Smakin perih jejak langkahku
Harikupun semakin sombong
Meski hidup terus berjalan…terus berjalan

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu
Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tersisa
Kuingin rasakan cinta…

Mari Menulis

By Pidri Esha | At 09.25 | Label : | 0 Comments
== Mari Menulis ==

Sebenarnya sebuah karya bisa kamu ciptakan, sebab siapa saja bisa menulis. Tidak ada yang tak mungkin. Hanya saja, “Apakah anda memiliki kemauan atau tidak?”. Kata pepatah mengatakan bahwa, ‘dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan’ untuk menuju kearah apa yang anda inguinkan. Jika ‘kemauan’ itu sudah ada, maka anda mesti membangun beberapa unsur dalam diri anda, yakni :

Semangat sebagai senjata mengalahkan rasa bosan dan bermalas-malasan yang mempengaruhi daya kerja untuk mencapai apa yang anda inginkan.

Optimis dan yakin bahwa anda bisa membuktikan potensi yang anda miliki. Memacu kretifitas mengembangkan ide-ide yang selama ini terpendam atau sebatas anda pautkan dalam angan-angan saja.

Percaya diri dan jangan minder dengan kesuksesan yang diraih orang lain. Karena orang lain juga pasti memiliki hal yang sama sebelumnya, seperti yang anda rasakan saat ini. Keragu-raguan hanya akan membuat anda mengulur-ulur waktu yang sia-sia, bisa jadi akhirnya terbengkelai tak berbuat apa-apa.

Pantang menyerah demi mewujudkan sebuah karya pasti mengalami kesulitan. Perlu diketahui bahwa, semakin sulit tingkat tantangan yang ada, maka semakin besar pula kebanggaan yang nanti anda rasakan diakhir episode jerih payah yang selama ini anda lakukan.

Tekun membaca dan mencari inspirasi sekaligus sebagai koreksi dalam tulisan-tulisan yang anda ciptakan supaya lebih kaya imajinasi dan memiliki bobot kualitas didalamnya. Dengan harapan tulisan anda nantinya mampu menampung semua jiwa para pembaca karya anda.

Konsentrasi serta fokus pada pijakan tema tulisan anda. Jangan mudah terkecoh oleh pertimbangan dengan saran yang diberikan orang lain yang justru bisa menghambarkan pokok ide bahasan yang anda buat. Pelajari kritikan-saran itu sebagai acuan penambahan dalam anda berkarya.

Setelah semua hal tersebut diatas anda tanamkan, maka selanjutnya mempersiapkan diri memasuki langkah awal yang kamu perlukan, antara lain :

Ide cemerlang
Ide adalah garis start untuk memulai menulis. Kadang susah menemukan ide, tapi bukan berarti anda tidak mempunyai ide sama sekali. Dengan ide itu terciptanya titik rangsang motifasi dalam tulisan anda. Ide-ide itu tidak perlu muluk atau harus perfect. Tapi bagaimana ide itu kuat. Sehingga tetap bertahan biarpun anda mengalami writer’s block (jalan buntu). Sebab ide yang lemah bisa membuat karyamu tumbang dengan sendirinya.

Kertas kosong
Sediakan yang banyak untuk menulis dan menuangkan konsep atau outline. dan bisa untuk mencatat imajinasi atau ide attractive yang mungkin muncul tanpa diundang.

Pena
Bawa selalu benda ini agar moment yang penting atau sesuatu yang terlintas untuk ditulis tidak terlewatkan begitu saja, atau membawa alat tulis yang warna-warni agar anda lebih bisa bebas untuk berekspresi. Juga bisa jadi terapi bagi jiwa anda.

Mood
Ciptakan suasana yang tenang, nyaman dan fresh, kalau perlu melibatkan sesuatu yang bisa merangsang mood dan enjoy, seperti mendengarkan musik favorit anda. Perasaan mood seseorang berbeda-beda, kadang ada yang mencari suasana sepi atau ke tempat-tempat yang terbuka, misalnya di pantai. Bukankah menulis itu dari hati?. Maka dari itu anda bebas menciptakan dunia sendiri dalam hati untuk lebih bisa menghayati apa yang anda tulis.


Dalam memulai membuat karya jangan mencari opening yang sempurna, ini akan membuat anda justru tidak melakukan apa-apa dan kertas anda pun tetap kosong. Lakukan sebisa anda, biarkan tulisan-tulisan itu mengalir, tidak menutup kemumgkinan ide-ide akan bermunculan memenuhi pikiran anda. Tapi jangan enggan untuk menggantinya dengan tulisan yang lebih menarik.

Buatlah sebuah konsep dari ide yang sudah anda temukan. Pastikan tema dan seting latarnya. Tentukan inti dari tulisan dan pesan yang ingin anda sampaikan. Kemudian susun outline dari garis besar tema menjadi pecahan-pecahan kerangka pikiran - setiap bagian harus saling berhubungan - untuk masing-masing sebuah paragraph atau bab. Sebab tanpa kerangka tulisan, anda akan berputar-putar mengulang hal yang sama disetiap paragrafnya.
Untuk menambah informasi tulisan, anda bisa mencari di ininternet, melalui wawancara dengan nara sumber, survey, membaca buku, atau memperhastikan lingkungan disekitar anda. Gunakan rumus 5W + 1H (Who, What, Where, When, Why, How) supaya tulisan anda akurat dan relitas.

Dalam menyusun tulisan, perkaya dengan perbendaharaan kata (baik bahasa istilah atau metafor), jangan memakai atau mengulang-ulang kata yang selalu sama dan monotone, supaya pembaca tidak bosan. Buatlah gaya tulisan yang berbeda atau lain dari yang lain (inovatif). Kemas tulisan melalui sudut pandang yang berbeda, dengan caramu sendiri sehingga tidak mudah ditebak. Buat alur cerita yang mengalir dengan memperbanyak deskripsi membangun rasa penasaran pembaca agar tidak terhanti membaca sebelum ending. Anda harus bisa menciptakan karakter  yang kuat, karena tulisan yang bagus adalah tulisan yang mempunyai karakter yang kuat, plus konflik yang terjadi diantar tokoh-tokohnya. Mintalah pendapat orang lain jika kurang yakin dengan tulisan anda.

Menulis itu memang butuh proses, perlu penjiwaan, jangan tergesa-gesa mengakirinya, jika tidak ingin jalan ditempat. Koreksi kembali tulisan anda dengan membacanya kembali. Jika ada kata atau kalimat yang kurang pas, bisa anda gubah. Kurangi kalimat yang panjang dan bertele-tele. Ini hanya akan mencabarkan perasaan pembaca. Perhatikan secara seksama tanda bacanya agar mudah difahami maksud alur cerita dan emosinya. Serta buatlah karya anda benar-benar hidup dalam diri pembaca. Dengan begitu tulisan anda bisa diterima oleh pembaca secara utuh tentang maksud, tujuan, gagasan, harapan yang terkandung didalam tulisan anda.

Ada beberapa hal yang wajib diingat, yaitu jangan menjiplak karya orang lain, kecuali  anda mengambil sebagai referensi untuk menambah wawasan anda dan memperkaya khasanah bahasa. Dan yang penting lagi, jangan merasa anda menjadi orang yang gagal. Anda pasti bisa dengan terus belajar, berusaha, serta mencoba.

Semoga Bermanfaat..!!
Salamku..:))

NOTE :
*pic by elvira purba
*tulisan dari berbagai sumber

Pengertian Puisi Mbeling

By Pidri Esha | At 09.19 | Label : | 0 Comments

Pengertian Puisi Mbeling

Pandangan Jeihan sendiri mengenai puisi mbeling:

“ Puisi mbeling adalah puisi yang membumikan persoalan secara konkret, langsung mengungkapkan gagasan kreatif ke inti makna tanpa pencanggihan bahasa”.

Adapun sikap mbeling yang esensial adalah menjalani hidup dengan jiwa kanak-kanan, yang makna dan pengertiannya tidak kekanak-kanakan, dan juga tidak kebarat-baratan. Tidak sok serius dalam menanggapi keadaan, tetapi dalam mereaksi sebuah persoalan, sarat dengan makna. Ini tidak berarti santai dan tidak berarti tidak peduli pada lingkungan hidup.



Pandangan Jakob Sumarjo mengenai puisi mbeling:

“puisi mbeling adalah bermain demi permainan itu sendiri. Kenikmatan puisi mbeling terletak pada kesipan pembaca untuk memasuki permainan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam kata-kata atau huruf-huruf demi permainan itu sendiri. Kalau pembaca menemukan kenikmatan atau pesona di situ, maka cukuplah sudah puisi semacam itu(puisi mbeling).

Menurut Sapardi Djoko Damono dalam esainya Puisi Mbeling:

Suatu usaha pembebasan (Bahasa dan Sastra, tahun IV No.3/1978, Pusat Pengembangan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud) beliau mengatakan bahwa istilah mbeling kurang lebih berarti nakal, kurang ajar, sukar diatur, dan suka berontak.

Pandangan Soni Farrid maulana mengenai puisi mbeling:

jika puisi lirik merupakan sebuah jalan raya, maka puisi mbeling adalah sebuah jalan tikus yang memaksan orang menghentikan kendaraannya melewati jalan raya yang macet itu, yang kemudian dipilihnya jalan tikus untuk sampai ke tempat tujuan. Tentu saja, dalam melewati jalan tikus itu orang tidaka akan mendapat pemandangan indah. Tidak akan mendapatkan langit yang senantiasa bersih warna birunya. Pemandangan yang ada di situ, bisa jadi deretan jemuran celana dalam, wajah-wajah yang kumuh didera kemiskinan, parodi-parodi kehidupan dan sebagainya dan sebagainya”.

Dalam kata lain, puisi mbeling adalah semacam jeda dari “tradisi” penulisan puisi lirik indonesia, yang tentu saja dalam cara mengapresiasinya perlu semacam pisau analisis atau wacana lain, yang berbeda dengan wacana puisi lirik, simbiolisme, surrealisme, dan isme isme yang lainnya dari berbagai belahan dunia.

Latar Belakang Munculnya gerakan Puisi Mbeling

Jeihan berkata tentang gerakan puisi mbeling ini
“ sekali lagi saya tegaskan, bahwa puisi yang saya tulis pada tahun 1969 merupakan cikal bakal lahirnya gerakan puisi mbeling. Pada awal tahun 70an, rumah saya di cicadas kerap dijadikan markas para seniman Bandung yang memang berpikiran nakal-nakal. Mereka antara lain Remy Sylado, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Sanento Yuliman dan Wing Karjo. Pada bulan Oktober 1971, kami dikejutkan oleh Rendra yang membuat perkemahan kaum urakan di pantai Parangtaritis, Yogyakarta. Untuk mereaksi gerakan tersebut, lalu kami sepakat membikin gerakan puisi mbeling. Jadi gencarnya publikasi puisi mbeling itu sendiri merupakan reaksi atas gerakan kaum urakan yang dikomandani oleh Rendra, pada 16 Oktober 1971”

Sebagai gerakan, apa yang diganyang oleh gerakan puisi mbeling sebagaimana pernah dikatakan penyair Taufiq Ismail, ternyata bukan hanya kritik terhadap puisi itu sendiri. Tetapi juga sekaligus merupakan kritik terhadap majalah sastra horison dan para penyair yang sudah mapan pada saat itu.

Apresiasi puisi-puisi mbeling Jeihan Sukmantoro

Pada bagian pertama, akan diulas bagaimana puisi mbeling Jeihan yang ditulisnya dengan menggunakan kata-kata sebagai daya ekspresi dari kegelisahan batinnya yang direaksinya secara main-main, tapi ternyata sungguh-sunguh. Sedangkan pada bagian lain adalah menikmati puisinya yang menggunakan lambang angka dan lambang huruf.

BAGIAN PERTAMA

Dimulai dengan puisinya berjudul NELAYAN yang mengungkapkan dasar filosofi kaum mbeling tahun 1970-an


NELAYAN

Di tengah laut
Seorang nelayan berseru
Tuhan bikin laut
Beta bikin perahu
Tuhan bikin angin
Beta bikin layar

Tiba-tiba perahunya terguling

Akh,
Beta main-main
Tuhan sungguh-sungguh

1974

Puisi di atas seolah mau menyatakan maksud puisi mbeling, yakni bahwa “beta main-main, tuan sungguh-sungguh”. Puisi bertolak dari niat bermain-main. Niat untuk membuat bentuk demi suka ria bersama. Walaupun sejumlah puisinya tidak dapat dianggap hanya permainan kata belaka. Seperti sejumlah puisi selanjutnya.

Apa yang ditulis Jeihan dalam sejumlah puisi mbelingnya, ternyata selalu berada dalam arus kesadaran akan situasi yang terjadi pada saat itu. Kerap bersinggungan dengan masalah sosial. Semisal pada sebuah puisi mbelingnya di bawah ini:

PANGGILAN

NARKO
TIKNO
NARKOTIK
NO!

1974

Pada konteks ini, puisi tersebut bukan hanya permainan makna, namun sudah jauh-jauh hari Jeihan menolak kehadiran narkotik di bumi Indonesia. Dan hingga kini puisi tersebut terasa aktual sekaligus kontekstual dengan zaman yang mengiringinya

Sementara dalam puisinya di bawah ini:

KELUARGA BERENCANA, 2

Ata
Adi
Aga

Astaga
Anakku sudah tiga!
Biar saja

1973

Lewat puisinya ini Jeihan sesungguhnya sedang mereaksi program KB yang sudah mulai digencarkan pemerintah sejak awal tahun 1970-an. Jeihan di situ ingin menunjukan, bahwa dirinya sudah terlanjur punya anak tiga dan berusaha untuk masuk KB. Dan slogan KB adalah dua anak cukup. Tapi nyatanya di kemudian hari, Jeihan tidak mengikuti program tersebut.

Dari tiga puisi di atas, tampak Jeihan banyak memanfaatkan kata-kata sehari-hari, yang boleh jadi hal itu menjadi sampah bagi penulisan puisi lirik, simbolik, atau surrealisme. Walau teks yang digunakan Jeihan berangkat dari sampah kata-kata, nyatanya teks tersebut masih memberikan kebulatan makna. Masih merupakan sebuah pemandangan sekaligus pandangan batin yang koheren dengan kehidupan yang dialaminya dan dijalaninya secara personal.




Sementara dalam puisinya berikut:

MUKADIMAH PUISI MBELING

sadjak ja sadjak
djejak ja djejak
sadjak cari djejak
djejak cari sadjak

biarkan

jang djejak, djejak
jang sadjak, sadjak

1971

Kaum mbeling membedakan antara kenyataan historis-empiris dengan seni, yang satu sama lainnya tidak ada hubungannya. Ini ditegaskan dalam frase: jang djejak, djejak/ jang sadjak, sadjak//. Meskipun mereka mengakui hak orang lain berkonsep yang berbeda: sadjak cari djejak/ djejak cari sadjak//.

Sajak, seni, adalah dunia otonom yang yang lepas dari kegunaan hidup praktis. Dalam sajak, orang bisa berbuat apa saja dengan cara apa saja. Dalam mbeling dijamin kebebasan ekspresi dan imajinasi.

Pada tahun 1974, Jeihan menulis sajak berjudul kembali

KEMBALI

Dari gumpalan tanah
Jadi gumpalan darah
Jadi gumpalan nanah
Dari tanah ke tanah

Sajak di atas membuktikan religiusitas Jeihan yang kuat. Manusia hanya berasal dari tanah. Tanah menjadi darah. Darah menjadi nanah. Manusia sakit, menderita dan akhirnya mati, menjadi tanah kembali. Inilah perenungan yang sama sekali lepas dari sifat mbeling. Di balik senda guraunya yang rasional, Jeihan di lubuk hatinya masih kuat intuisi keagamaannya.

BAGIAN KEDUA

Lambang-lambang huruf atau angka yang ditulis Jeihan, seperti puisi berikut:

DOA

A
A A
A A A
A A AA
A A A A A
A A A A A A
A A A A A A A
A A A A A A A A
A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A A
A A A A A A A A A A A A A A A A A

Menurut Soni Farid Maulana, huruf A dalam puisi tersebut bisa ditafsir sebagai permulaan dari nama Adam, yang lebih lanjut bisa juga ditafsir sebagai manusia pada umumnya, yang kerap berdoa dan seusai doa mengatakan Amin. Frase Amin yang diucap sebanyak tujuh belas kali itu, yang berdasar pada susunan huruf A dalam bentuk piramid itu, adakah merupakan akhir dari pembacaan surat Al-Fatihah yang diucap dalam setiap rokaat shalat? Bukankah jumlah rokaat shalat wajib dari Subuh hingga Isya itu sejumlah 17 rokaat? Boleh ditafsirkan demikian, dan boleh juga tidak.

Namun menurut Jakob Sumardjo, puisi ini adalah ucapan persetujuan dalam doa, yang berarti manusia menyetujui semua yang dipancarkan dan berasal dari “Atas”, yaitu Tuhan sendiri. Tipografi ini dapat dibaca dari atas sebagai bermakana yang berasal dari yang tunggal dan dibaca dari bawah yang bermakna semuanya untuk yang tunggal. Inilah keyakinan teguh sebuah iman.

Dari puisinya yang lain seperti dalam HAL, 2 berikut:

HAL, 2

O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
O O O O O O O O O
S . O . S
O 2
!


S.O.S dan O2, itulah kunci dari puisi ini. Yakni, Jeihan ingin berteriak bahwa pada saat ini pencemaran udara sudah mencapai titik gawat. Dalam puisi tersebut Jeihan menggunakan lambang kimia, O2 yang berarti oksigen. Sedangkan deretan lambang O yang dibangunnya dengan citra lambang palang merah atau palang hijau itu, seakan mencitrakan mulut orang yang menganga, mengharapkan oksigen yang segar. Mulut yang menganga dan megap-megap itu, bagai mulut ikan yang diangkat dari air ke daratan. Gambaran semacam itulah yang ingin diungkap oleh Jeihan.

 NOTE : Picture "Puisi Mbeling Remy Sylado"


DAFTAR PUSTAKA

YPRSI. 2000. MATA mbeling JEIHAN. Bandung: Grasindo
Posting Lama ►
 

Ad

business

technology

Copyright © 2012. Celoteh Secangkir Kopi - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz